Mata Uang Paling Mahal adalah "Waktu"

Berbicara tentang waktu, mungkin hampir setiap orang menyadari bahwa setiap waktu yang kita miliki adalah sangat berharga. Bahkan karena pentingnya arti waktu, orang Barat sering mengatakan "Time is Money" (waktu adalah uang). Setiap kali kita kehilangan waktu, berarti sama dengan kehilangan uang. Orang Arab pun punya sebuah ungkapan, "Al-waqtu kas Saifi" (waktu ibarat pedang). Jika tidak bisa memanfaatkan waktu, sama halnya kita telah melukai diri kita sendiri.

Sebetulnya hidup kita di dunia ini, tidak lain adalah waktu yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, semenjak lahir sampai ajal menjemput. Menyia-nyiakan waktu yang kita miliki, sama halnya dengan menyia-nyiakan hidup sendiri. Kita perlu membagi waktu yang kita miliki untuk bekerja (menghasilkan uang), bersosialisasi, beristirahat, beribadah, mengurus keluarga, menyalurkan hobi dan mengisi hari-hari dengan sesuatu yang positip dan berharga.

Waktu lebih berharga daripada uang. Uang yang sudah hilang bisa dicari kembali, tapi waktu yang sudah berlalu tidak bisa dibeli kembali. Meski banyak dari kita yang sepakat dengan statemen tersebut, namun dalam kenyataannya terkadang kita lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan waktu. Menyibukkan diri dengan pekerjaan memang bisa membuat kita bisa menghasilkan banyak uang, namun perlu kita ingat bahwa keluarga kita juga butuh waktu dan kehadiran kita untuk menikmati saat-saat bersama. Memanjakan diri sendiri dengan berselancar di dunia maya, atau bercuap-cuap di media sosial, atau berfantasi di dunia game, memang sangat menyenangkan, tapi bersosialisasi di dunia nyata sebagai sarana menyambung silaturrahmi jangan sampai kita lupakan.

Mari kita ingat selalu sabda Rosululloh Muhammad kepada kita semua, "Manfaatkan 5 perkara sebelum datang 5 perkara lainnya".

  1. Masa sehat, sebelum datang masa sakit.
  2. Masa muda, sebelum datang masa tua.
  3. Masa kaya, sebelum datang masa miskin.
  4. Masa luang, sebelum datang masa sempit.
  5. Masa hidup, sebelum datang masa kematian.

Penyesalan selalu datang di akhir dan rasanya begitu menyakitkan, apalagi bagi orang yang tidak siap untuk menerima kenyataan. Untuk itu sebelum datang rasa sesal, sebaiknya gunakan waktu yang kita miliki sebijaksana mungkin. Kesempatan hidup kita hanya sekali, jangan pernah disia-siakan.


~ Happy Blogging dan Bijaksana Mengatur Waktu ~
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Kali ini saya tidak hendak menasehati para sobat yang membaca postingan ini. Saya memposting tulisan ini hanya untuk sekedar berbagi pengalaman, agar tidak merasakan kejadian pahit yang pernah saya alami. Sebenarnya tidaklah layak untuk menulis kisah sendiri, namun jika saya memakai kisah orang lain terkadang mendapat tanggapan, "Berbicara sih enak, tapi sulit untuk dilakukan". Karena itu biarlah kali ini saya sendiri yang menjadi aktor ceritanya (kayak sinetron nih...).

Seperti yang pernah saya tulis di About Me, bahwa saya mulai bekerja sejak tamat dari STM (program 4 tahun) diusia 20 tahun. Saya selalu memilih bekerja di perusahaan PMA waktu itu, karena saya pikir gajinya pasti lebih tinggi dari perusahaan lokal. Yang kemudian saya diterima disebuah perusahaan pakan ternak milik Korea di Pasuruan Jawa Timur. Memang gajinya tidak lebih tinggi dari teman saya yang diterima bekerja di perusahaan milik Amerika atau Eropa, namun (maaf bukan bermaksud meremehkan) tetap masih lebih tinggi dari perusahaan milik lokal dengan modal ijazah SLTA.

Setelah setahun... saya mulai merintis usaha disela-sela bekerja, dari uang yang saya tabung setiap bulan dari gaji. Saya membuka usaha poto copy dan rental komputer untuk pengetikan di lokasi sekitar kampus B Unair Surabaya. Pada tahun 1998 bisnis poto copy dan rental komputer untuk pengetikan sangat booming, sehingga dalam 2 tahun saya sudah membuka lagi cabang baru di sekitar kampus C Unair yang jaraknya kurang lebih 10km dari kampus B. Karena saya masih bekerja dan kurang paham tentang komputer, saya meminta bantuan salah seorang teman baik yang mengerti dunia komputer untuk mengelolanya.

Dari situlah usaha saya mulai berkembang. Pada tahun 2000 ketika internet sudah mulai ramai, saya pun membuka sebuah warnet 20 unit PC di dalam lokasi kampus B Unair. Dengan tarif yang cukup mahal waktu itu (4000 Rp/jam), warnet saya tetap ramai (full) terus terutama selama jam kuliah. Bahkan yang tidak kebagian tempat, rela untuk menunggu. Kemudian dari hasil 3 bidang usaha, saya mulai merintis usaha ayam potong di Pasuruan. Disela-sela waktu bekerja dan ketika hari libur, saya berkeliling untuk melobi warung, depot dan restoran yang menyajikan daging ayam sebagai menu. Dari hari ke hari pesanan ayam potong semakin banyak, sehari bisa mencapai 200-300 potong. Saya mengambil untung 1000 Rp/potong, jadi bisa dibayangkan berapa keuntungannya per hari.

Melihat saya punya usaha ayam potong, salah satu teman di bagian marketing perusahaan menyarankan saya untuk menjadi mitra perusahaan, syaratnya harus punya kandang sendiri dan memiliki ayam ternak minim 1000 ekor. Hanya karena saya adalah karyawan, maka kepemilikan nama perusahaan tidak boleh atas nama saya. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, lalu membuat sebuah CV "Usaha Maju Mapan" yang bergerak dibidang trading dan jasa (sekalian untuk usaha saya yang lain) dengan atas nama kakak saya. Untuk membuat kandang dan membeli ayam ternak, dana cash saya kurang cukup saat itu. Akhirnya saya meminjam di bank dengan agunan kepemilikan 3 bidang usaha yang sudah saya rintis. Wal hasil kucuran pinjaman cair 30 juta, cukuplah untuk membuat kandang, membeli ayam ternak dan operasional saat itu.

Dengan 4 bidang usaha yang saya miliki ditambah saya masih bekerja, membuat rekening saya tidak pernah kosong. Di usia 25 tahun, penghasilan bersih dari 4 macam bisnis minimal 20 juta/bulan (belum termasuk gaji saya bekerja). Sungguh angka yang cukup besar untuk usia seumuran saya di tahun 2002. Namun seiring dengan besarnya hasil, sifat buruk saya mulai timbul. Saya membeli apa saja yang dulu tidak bisa saya beli, maklum karena saya dilahirkan dari keluarga kurang mampu. Saya beli seluruh mainan yang sejak kecil dulu ingin saya miliki. Saya membeli barang yang lebih mahal dari teman lain, khususnya yang pernah mengolok saya (hp, laptop, motor sport, mobil, dan sebagainya). Saya tidak berniat untuk membeli rumah dulu, karena saya berpikir waktu saya masih panjang untuk bersenang-senang dan menikmati masa lajang saya. Bagi saya waktu itu wanita hanya sebagai hiburan, bukan sebagai pacar atau calon teman hidup untuk dinikahi.

Setiap hari selepas bekerja saya selalu menghibur diri untuk bersenang-senang. Hampir tiap hari saya nongkrong di cafe, mentraktir teman (khususnya cewe) untuk makan, setelah itu dilanjut ke klub dugem. Perbuatan "Mo Limo" atau 5M seperti orang jawa bilang, hanya maling saja yang tidak saya lakukan (5M: maling (mencuri), main (berjudi), madat (narkoba), mabuk (minuman keras), madon (main perempuan)). Didalam benak saya, "Ini adalah waktu saya untuk menikmati hidup yang belum pernah saya rasakan, dan 4 usaha serta pekerjaan saya tidak akan berakhir dengan cepat".

Karena kesibukan mengelola usaha yang makin meningkat, akhirnya pada tahun 2003 saya memutuskan resign dari pekerjaan. Sejak itu waktu saya semakin bebas karena tidak terikat dengan jam kerja lagi. Justru dengan kondisi itu, hobi maksiat saya semakin menjadi. Saya semakin lupa dengan tuntunan, yang ada hanya tuntutan untuk memenuhi hasrat nafsu setan. Dan mungkin karena itu Allah menjadi murka dengan saya. Tiga tahun selepas saya resign dari pekerjaan, bisnis saya mulai menurun. Wabah flu burung yang melanda, serta perasaingan warnet dan rental yang semakin banyak, membuat omset tidak bisa sebesar sebelumnya.

Kondisi itu diperburuk oleh orang kepercayaan saya yang memakai uang usaha untuk bermain valas. Dia terlalu percaya diri akan beruntung sehingga membeli dalam jumlah besar, ternyata perkiraannya meleset. Karena dia panik telah memakai dana usaha lebih dari 100 juta, akhirnya dia kabur entah kemana. Saya menjadi kelabakan... bank telpon bahwa kredit saya menunggak, perusahaan pakan ternak juga belum dibayar, para agen pun komplain ternak dan pakan mereka belum dikirim. Sementara dana cash oprasional CV telah dikuras oleh teman saya. Tabungan sayapun tinggal sedikit, karena habis untuk foya-foya. Terpaksa saya harus menjual mobil dan motor sport saya.

Masalah tidak berhenti disitu. Wabah flu burung semakin menjadi, membuat ternak ayam saya banyak yang mati. Sementara untuk beli serum dan pakan tidak bisa lagi bayar mundur, karena CV saya sudah di blacklist. Untuk meminjam di bank tidak mungkin karena saya masih punya tanggungan. Bisnis poto copy, rental dan warnet juga semakin lama semakin surut dan tak mampu menopang biaya operasional seluruh usaha. Akhirnya dengan terpaksa saya menjual seluruh aset untuk membayar semua hutang, yang tersisa hanya Rp 10 juta. Baru beberapa hari saya merasa tenang, tiba-tiba keluarga saya menelpon kalau ayah saya sakit keras. Uang sisa saya ludes untuk biaya rumah sakit, itupun masih belum cukup. Untungnya saudara saya yang lain ada yang membantu.

Saya ingin memperkarakan teman saya yang telah mencuri dari saya, namun untuk melakukannya tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Itupun belum tentu jika saya menang, uang yang dibawa kabur masih tersisa. Akhirnya yang bisa dilakukan cuma pasrah, ternyata keyakinan congkak bahwa bisnis saya tidak akan berakhir dengan cepat telah salah. Mungkin ini hukuman atas kelalaian saya, Allah Sang Maha Pencipta hanya dengan "Kun Fayakuun" maka dalam sekejab apapun bisa terjadi. Sesuai dengan firman-Nya, "Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia" (QS. An-Nahl:40).

Di tengah keterpurukan itulah saya mulai sadar, namun semuanya sudah terlambat. Penyesalan tidak akan mengembalikan sesuatu yang sudah hilang, namun hanya untuk mengevaluasi diri. Saya sering mendapat nasehat dari sahabat, bahkan mengutip sebuah ayat, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS. Al-Baqarah:155)... Namun pada saat itu, telinga saya masih tertutup dengan kecongkakan saya. Dan akhirnya kecongkakan sayalah yang membuat diri saya sendiri terpuruk.

Mungkin cerita saya diatas terlalu panjang dan hanya sobat yang punya waktu luang dan tertarik saja yang bisa membacanya sampai akhir. Ini semua karena saya ingin berbagi pengalaman, agar para pembaca tidak terjerumus di jurang kenistaan seperti yang telah saya lakukan. Kebangkrutan dan keterpurukan itu menyakitkan dan tak jarang membuat seseorang mengalami stres berat bahkan sampai gila.

Untuk itu selagi sobat pembaca masih diberi kenikmatan, maka gunakanlah sebaik mungkin. Bisa jadi jika anda lalai, tidak akan tertimpa musibah yang sama persis seperti saya. Tapi yang namanya manusia, suatu saat pasti akan diuji. Untuk itu sebaiknya kita mempersiapkan diri dan lebih mendekatkan diri pada Ilahi.
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Jangan menjadi Monyet yang berburu Kacang

Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus.

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol yang tak bisa dikeluarkan.

Kok, bisa mengakap monyet yang gesit dengan mudah?

Hal itu dikarenakan monyet-monyet tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!

Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Tapi karena instingnya hanya untuk mengambil kacang, maka monyet-monyet itu enggan melepaskan makanan yang sudah ada dalam genggaman tangannya.

~~~~~~~~~~
Kita mungkin akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenarnya kita mungkin sering melakukan hal yang sama. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf.

Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa "toples-toples kedengkian" itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Semestinya kita bisa selamat dari penyakit hati, jika sebelum tidur kita mau melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan iri dan dengki yang tidak enak itu?


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Mengasihi Tanpa Mengatakan Sesuatu

Suatu hari saya ditraktir makan mie di kedai mie langganan. Harganya tidak mahal dan rasanya sangat lezat sekali. Kami duduk di depan meja panjang yang dapat menampung sekitar sepuluh orang bila mengelilingi meja. Meja sudah terisi enam orang, saya, teman saya dan empat orang pengunjung.

Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di dekat kami. Tepatnya di antara teman saya dan pengunjung lainnya. Mereka telah memesan mie dan sedang menunggu. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri yang masih muda dan seorang anak yang berusia sekitar enam tahun. Mereka keluarga yang jauh dari sederhana. Pakaiannya agak kusam dan berbau. Si anak kelihatannya baru sembuh dari suatu penyakit yang tidak kami ketahui dan sedang menarik ingusnya keluar masuk. Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap ingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya. Pasangan itu sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Sepertinya makan mie merupakan perayaan menyambut kesembuhannya. Saat mie datang keluarga tersebut makan dengan lahap.

Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. Bayangkan aja, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak. Tidak berapa lama kemudian, keempat pelanggan yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu-persatu tanpa menghabiskan makanan. Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar diwajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat pengunjung lainnya.

Tetapi itu tidak berlangsung lama, terutama saat mereka melihat teman saya, keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mie dengan segala kecuekannya. Seolah-olah tidak ada bau disekitarnya dan tidak ada suara ingus yang didengar. Saya tidak bisa berbuat banyak selain belajar cuek dan menghabiskan sisa mie. Lagi pula saya ditraktir makan dan tidak berhak mengajukan hal-hal yang aneh-aneh dan tidak sopan. Selesai makan, kami masih duduk dua puluh menit sebelum meninggalkan kedai makanan. Saya heran dengan tingkah teman saya yang diluar kebiasaannya. Biasanya setelah makan, ia hanya duduk paling lama sepuluh menit. Sekali lagi saya harus mengikuti kemauan teman saya dengan jengkel.

Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai bersamaan dengan keluarga muda, saya merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan ia sangat terganggu duduk di samping keluarga tersebut. Ia merasakan rasa bau dan merasa terganggu dengan suara ingus anaknya. Ia merasakan tepat seperti yang saya rasakan.

Teman saya juga mengatakan, jika ia meninggalkan keluarga tersebut di saat mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersuka cita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan uang yang bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Uang itu tidak begitu banyak untuk ukuran kami tetapi tidak bagi keluarga itu.

Saya sangat terkejut mendengar penuturan teman saya. Dan tidak menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya yang khas, bertahan makan mie sampai habis dan menunggu dua puluh menit setelah makan, telah memberi semangat baru bagi keluarga itu. Saya teringat bagaimana rasa kepahitan, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami istri ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan. Saya juga teringat bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya yang cuek.

Pertama kali dalam hidup ini, saya menyadari dan menyaksikan bagaimana mengasihi sesama tanpa mengatakan sesuatu benar-benar tidak mustahil. Ini benar-benar keajaiban. Cukup hanya dengan meneruskan makan mie sampai habis. Masa bodoh dengan sikap saya dan pengunjung lain yang tidak terpuji. Menunggu dua puluh menit setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau untuk menyempurnakan segalanya, telah menunjukkan suatu belas kasih yang dilakukan oleh seorang teman. Salut dengan cara teman saya menegor saya tanpa mengatakan sesuatu. Ia tidak menuduh tetapi cukup telak memukul saya. Saya merasa sangat terpukul, malu tetapi tidak marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri bagaimana mudahnya mengatakan mengasihi sesama tetapi tidak melakukannya tindakan sama sekali.

~~~~~~~~~~
Memang lebih mudah utk menyakiti dari pada mengasihi, lebih mudah utk membenci daripada menyayangi. Namun yg perlu kita ingat, seandainya byk orang disekeliling yang menyakiti dan membenci kita, apakah kita bisa menikmati hidup ini dengan nyaman??

Selalu tebarkan kasih dan sayang, suatu saat kita akan mendapat hal yang sama berlipat-lipat.


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Sekantong Racun Penyembuh

Seorang wanita bernama Li-li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua. Dalam waktu singkat, Li-li menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Li-li sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Li-li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu, Li-li dan ibu mertua tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-li harus taat kepada setiap permintaan sang mertua.

Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang miskin itu ada dalam stress yang besar. Akhirnya, Li-li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Li-li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr Huang, yang menjual jamu. Li-li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr Huang dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.

Mr Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-li$2C saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua yang saya minta.

Li-li menjawab, "Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta." Mr Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan sekantong jamu.

Dia memberitahu Li-Li, "Kamu tidak boleh menggunakan racun yang be-reaksi cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan meracuni tubuh ibu mertuamu. Setiap hari masakkan daging babi atau ayam dan kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan berdebat dengannya, taati dia, dan merlakukan dia seperti seorang ratu."

Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulat rencana pembunuhan terhadap ibu mertua.

Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari, Lili melayani ibu mertua dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li ingat apa yang dikatakan Mr Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati ibu mertua, memperlakukan ibu mertuanya seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.

Setelah empat bulan, seluruh rumah berubah. Li-li telah belajar mengendalikan emosi-nya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat sekalipun dengan ibu mertua-nya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan mudah ditemani.

Sikap ibu mertua terhadp Li-li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-li seperti anaknya sendiri. Dia terus memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa Li-li adalah menantu terbaik yang pernah ditemuinya. Li-li dan ibu mertuanya sekarang berlaku sepertu ibu dan anak sungguhan. Suami Li-li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.

Satu hari, Li-li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi. Dia berkata, "Mr Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu membunuh ibu mertua saya. Dia telah berubah menjadi wanita yang sangat baik dan saya mengasihinya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin di a mati karena racun yang saya berikan."

Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. "Li-li, tidak usah khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya."

~~~~~~~~~~
Tidak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan emosional dan amarah, tapi masalah akan teratasi jika kita menyelesaikannya dengan tenang dan pikiran yang jernih. Perdebatan terjadi adalah karena ada dua atau lebih perbedaan pendapat yang ingin dimenangkan. Namun jika salah satu mau mengerti dan memahami perbedaan itu, maka perdebatan bisa diminimalisir.

Mempertahankan prinsip itu perlu, tapi tidak dengan kekerasan dan cara yang kotor.


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Jujurlah Dengan Apa Adanya Kita Saat Ini

Di sebuah keluarga sederhana hiduplah seorang ayah dengan putri semata wayang yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah perusahaan kontraktor, sementara sang ibu sudah tiada saat melahirkan sang putri. Sehingga sang ayah harus menjadi orang tua tunggal untuk merawat putrinya.

Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai pengawas di perusahaan kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab secara jujur.

Sang putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai kuli bangunan. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayahnya bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya membuatnya telah melukai hatinya.

Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Sang putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang kuli bangunan," keluhnya dalam hati.

Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka suatu hari si ayah mengajukan cuti untuk mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.

Setelah sampai di taman, mereka berdua duduk di sebuah bangku panjang yang ada di taman itu. Dengan raut penuh senyuman, si ayah memulai pembicaraan, "Anakku, ayah tahu kamu merasa malu memiliki ayah seorang kuli bangunan. Namun selama ini ayah menghidupi keluarga kita dan membiayai sekolahmu dengan hasil dari pekerjaan itu." Sang putri mendengarkan cerita tersebut dengan sedikit cuek tanpa menatap ayahnya.

Lalu sang ayah melanjutkan perkatannya, "Walaupun hanya sebagai kuli bangunan, tetapi ayah adalah kuli bangunan yang baik, jujur, disiplin dan jarang melakukan kesalahan. Namun karena ayah tak punya ijazah karena kakekmu tak punya biaya, membuat ayah tetap sebagai kuli. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.." sang ayah menuntun tangan putrinya untuk melihat sebuah bangunan bertingkat.

"Lihatlah gedung bertingkat yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini dimana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini. Dan yang paling ayah sukuri adalah ayah masih mampu menyekolahkanmu, sehingga kelak hidupmu bisa lebih baik dari ayahmu ini"

Mendengar penuturan sang ayah, hati si putri menjadi luluh. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, rasa ikhlas dan tahu untuk apa itu semua dilakukan, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu."

Sang ayah lalu memengang kedua pundak putrinya seraya berkata, "Anakku.. tidak apa-apa kamu tidak bangga memiliki ayah seorang kuli bangunan. Tapi ayah begitu bangga memiliki putri sepertimu. Kamu adalah anugerah terbesar yang pernah Tuhan berikan untuk ayah."

Setelah mendengar semua penuturan sang ayah, si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri Yah. Putri salah selama ini. Walaupun kuli bangunan, tetapi ternyata Ayah adalah seorang ayah yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.

~~~~~~~~~~
Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar, materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan. Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan was was, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.

Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik seperti kuli bangunan dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia. Sungguh, bisa menerima apa adanya kita saat ini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita saat ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Persahabatan Ikan dan Kera

Pada suatu masa hiduplah 2 makhluk bersahabat, seekor kera dan seekor ikan. Sang kera hidup di atas sebatang pohon yg tumbuh di pinggir sungai - tempat hidup si ikan. Mereka sering meluangkan waktu untuk ngobrol dan bertukar pikiran bersama-sama. Kadangkala kelakar terjadi pula di antara mereka. Sungguh persahabatan yang indah.

Hingga pada suatu saat, kera sedang bertengger di atas dahan tertinggi. Dari sana ia melihat sesuatu di kejauhan. Ya! Banjir bandang di hulu sungai. Dan dengan kecepatan yang tinggi banjir bandang siap segera menerjang ke tempat yang lebih rendah… Tempat tinggal kera dan ikan!

Segera sang kera melompat ke bawah, memanggil sang ikan seraya bekata, “Hoi ikan!! Dimana kau?”

“Aku di sini kera”, jawab sang ikan.

“Cepat kemari… Banjir bandang melanda dari hulu sungai sana. Cepatlah kau ikut aku. Biar kuselamatkan kau. Akan kuamankan kau bersamaku di puncak dahan tertinggi pohon ini”.

“Tapi kera…” Jawab sang ikan…

“Sudahlah!! Tak ada waktu untuk berdebat! Yang penting kau aman.” Tegas sang kera tanpa menunggu penjelasan ikan. Segera ia menyambar sang ikan dari dalam air. Setelah itu segera ia beranjak, melompat ke dahan tertinggi sambil memeluk erat sang ikan sahabatnya.

Tak lama, datanglah banjir bandang, mendera semua benda di permukaan rendah di seputar sungai. Satu jam lamanya banjir mendera semua wilayah di sekitar sungai. Sampai akhirnya banjir surut. Selama itu pula kera memeluk erat ikan sahabatnya, demi keselamatan sang ikan.

Setelah reda… Sang kera melompat kembali ke bawah, hendak mengembalikan sang ikan ke sungai tempat tinggalnya. Dibukanya tangannya, dan terlihat sang ikan masih tertidur menutup mata.

“Hai ikan, bangun!” serunya. Tapi ikan tetap diam. "Ikan… Ikan… bangunlah! Banjir bandang sudah berlalu. Ayo melompatlah kau ke sungai, rumahmu." Sang ikan tetap tak menyahut.

“IKAN!!!… IKAN!!” Kera berseru keras. Tersadarlah ia… Ikan telah mati. Mati akibat pelukannya. Manalah ada ikan biasa yang suka hidup di luar air? Sekalipun banjir bandang melanda, air tetaplah tempat ternyaman bagi ikan. Dan bukan pelukan hangat sang kera di atas dahan yg jauh dari air.

Itulah yang hendak disampaikan sang ikan. Tapi kera tak memberi kesempatan sang ikan menjelaskan. Dengan cara pandangnya sendiri, ia hendak menyelamatkan ikan. Namun bukannya selamat, sang ikan malah mati kekeringan.

~~~~~~~~~~
Seringkali dalam kehidupan ini kita gegabah menentukan sesuatu yang terbaik bagi orang lain. Padahal kehidupan orang lain tidaklah sama dengan kehidupan kita. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain.

Mencoba menolong orang lain jika dilakukan dengan cara yang salah justru bisa menghancurkan orang yang kita tolong.


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Kisah Pengrajin Emas dan Pembuat Kendi

Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota , tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran. Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu menyintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya. Karena itu timbul rasa dengki si pengrajin emas terhadap pembuat kendi.

Pada salah satu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia menunjuk si pembuat kendi dan berbohong dengan mengatakan: Saya melihat pencuri masuk ke rumah lelaki ini. Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, ia menyeret paksa pembuat kendi ke penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri.

Pembuat kendi bersumpah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. Tapi ada daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri tersebut tertangkap dan sekaligus membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Diapun dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya. Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, dia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.

Dengki dan benci sedemikian membakar jiwa dan hatinya sehingga dia mengambil keputusan yang berbahaya. Dia menyediakan racun dan memperalat seorang anak muda bodoh untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya seratus keping emas. Hari yang ditetapkan pun tiba. Perajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya pembuat kendi kelihatan sehat dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera dia mencari anak muda itu dan menyelidiki apa yang terjadi. Sadarlah dia bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu tidak diracun, tetapi anak muda tersebut malah lari dari kota membawa seratus keping emas pemberiaannya. Ketika perajin emas ini mendengar berita itu, dia merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian.

Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya meninggalkannya. Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah perajin emas. Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat pembuat kendi.

Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata, "Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku." Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu.

Pembuat kendi melanjutkan, "Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena sudah tentu nyawa aku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan benci terhadapku."

Kata-kata pembuat kendi menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabat ku, ketahuilah bahawa kedengkian laksana api yang membakar dan yang pertama dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik. Tahukah engkau apakah rahasia kebaikanku di tengah masyarakat? Untuk mengetahui rahasia ini, aku ingin menyajikan sebuah kisah untuk mu."

Pengrajin emas memasang telinganya untuk mendengar kisah tersebut dan dalam keadaan tersenyum yang tersungging di bibirnya, dengan penuh perhatian dia mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pembuat kendi.

Si pembuat kendi berkata, "Pada suatu hari Imam Sajad, berkata kepada salah seorang sahabatnya bernama Zuhri yang begitu sedih memikirkan segala yang muncul dari sifat benci pada dirinya. Beliau berkata: “Wahai Zuhri, apakah salahnya jika engkau menganggap orang lain sama seperti saudara dan keluargamu sendiri, orang yang tua sebagai bapakmu, anak-anak sebagai anakmu dan orang yang sebayamu seperti saudaramu sendiri. Ketika dalam keadaan begini, bagaimana mungkin engkau berbuat zalim kepada orang lain? Janganlah engkau lupa pada hal ini bahwa orang lebih menyayangi siapa yang berbuat baik kepada orang lain. Jika kau berbuat demikian dalam hidupmu, dunia akan menjadi tempat yang membahagiakanmu dan engkau akan mempunyai banyak kawan."

Kata-kata pembuat kendi itu sampai disini. Pengrajin emas berpikir jauh dan lahirlah rasa penyesalan di wajahnya. Dengan suara yang bergetar, dia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu. Kepada Tuhan dia berjanji bahwa selepas ini dia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.

~~~~~~~~~~
Memang terkadang ada rasa iri bila kita melihat orang lain lebih sukses, lebih disukai dan lebih bahagia dari kita. Namun jika perasaan itu kita simpan dalam hati, justru akan membuat kita kehabisa energi hanya untuk memikirkan orang yang kita benci itu sementara orang itu bahkan tidak berpikir tentang kita.

Daripada kita kehilangan energi sia-sia, lebih baik rasa iri, dengki dan dendam kita alihkan menjadi rasa sayang, bangga dan lapang dada menerima kekalahan. Bukankah memiliki banyak sahabat itu lebih menyenangkan daripada memiliki banyak musuh?...


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Nikmatilah Kopinya, Bukan Cangkirnya


Suatu hari beberapa alumni University California Berkeley yg sudah bekerja dan mapan dalam karir, mendatangi profesor kampus mereka yg kini sudah lanjut usia. Mereka membicarakan banyak hal yg menyangkut pekerjaan dan akhirnya mereka masing-masing mengungkapkan keluhan serta protes terhadap pekerjaan maupun kehidupan mereka.

Sang profesor lalu ke dapur dan membawa seteko kopi panas. Di sebuah nampan ia membawa bermacam-macam cangkir. Ada yg terbuat dari kaca, kristal, melamin, beling dan plastik. Beberapa cangkir nampak indah dan mahal, tetapi ada juga yg bentuknya biasa-biasa saja dan terbuat dari bahan yg murah. “Silahkan masing-masing mengambil kopi dan menungkannya sendiri." Sang profesor mempersilahkan.

Setelah masing-masing memegang cangkir berisi kopi, profesor itu berkata “Perhatikanlah semua, bahwa kalian memilih cangkir-cangkir yg bagus dan yg kini tertinggal hanya cangkir-cangkir yg murah dan tidak begitu menarik. Memilih yang terbaik adalah normal. Tetapi sebenarnya disitulah letak persoalannya. Ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian menjadi terganggu. Kalian mulai melihat cangkir yg di pegang oleh orang lain dan membandingkannya dengan cangkir yang kalian pegang. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yg ingin kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya.”

Sang profesor lalu melanjutkan, "Sesungguhnya kopi itu adalah kehidupan kita sedangkan cangkir adalah pekerjaan, jabatan, uang dan posisi yang kita miliki. Jangan pernah membiarkan cangkir yang merupakan wadah dari kopi tersebut mempengaruhi kopi yang ingin kita nikmati. Pekerjaan, jabatan dan status kita di dalam pekerjaan atau di masyarakat hanya merupakan “wadah” yang seharusnya tidak mempengaruhi kualitas kehidupan kita. Orang boleh saja menaruh kopi di dalam cangkir kristal yang mahal dan indah, tetapi belum tentu mereka dapat merasakan nikmat dari kopi tersebut. Artinya, ada sebagian orang yang menurut penglihatan jasmaniah kita begitu beruntung dan berbahagia, tetapi belum tentu mereka dapat menikmati indahnya karunia kehidupan yang di berikan Tuhan.

~~~~~~~~~~
Tak jarang kita menggerutu dan menyesali keadaan. Begitu banyak segi kehidupan yang membuat kita merasa tidak puas dan akhirnya melupakan pemberian Tuhan yang sangat berharga, yaitu kehidupan itu sendiri. Cerita diatas memberikan pelajaran penting agar kita tidak terlalu mempersoalkan mengenai cara Tuhan “mengemas” kehidupan masing-masing orang.

Mari kita belajar menghargai dan mensyukuri hidup ini bagaimanapun cara Tuhan “mengemas”nya untuk masing2 kita. Yang penting bagaimana kita menyikapi anugerah dan mengisinya dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi diri kita pribadi maupun orang lain.


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Anak Penjual Pisang Molen

Siang itu hujan mengguyur kota pahlawan. Saya masih berada dijalanan bersama motor kesayangan dan mantel hujan pelindung. Dinginnya guyuran air hujan seperti tak terasa, karena baru saja saya mendapat rezeki dari pemesanan baju seragam. Namun karena perut belum diisi sejak pagi terasa musik keroncong saling bersautan, pertanda saya harus mencari warung makan untuk sarapan sekaligus makan siang.

Karena dijalanan protokol, sulit sekali mencari warung. Akhirnya saya belokkan kendaraan ke sebuah depot nasi padang. Sesampai di depot saya langsung memesan makanan. Saat menunggu pesanan, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berkaos biru dan memakai celana biru anak SMP muncul di depan saya.

"Kak.. Kakak mau beli pisang molen?" Tanya anak itu sambil tersenyum. Dia membuka tutup nampan untuk menunjukkan kue molen pada saya.

Karena saya sudah memesan makanan, saya menjawab dengan ringan, " Tidak dik, kakak sudah memesan makanan." Anak itupun akhirnya berlalu dari hadapan saya.

Pesanan tiba dan saya langsung menikmatinya. Sambil makan, saya melihat keluar depot dan melihat anak kecil tadi duduk disamping pintu dengan nampan berisi jualan kue molennya. Setiap orang yang akan masuk depot, dia tawari kuenya. Dan sampai makanan saya habis, belum juga ada orang yang membeli kue molen anak tadi.

Ketika tahu saya melihatnya, anak itu kemudian menghampiri saya lagi. "Kakak sudah makan? Coba kue molen saya, enak lho kak."

Karena saya sudah merasa kenyang, saya pun menjawab, "Dik, kakak sudah kenyang. Lain kali saja ya." Anak itupun berlalu lagi tapi masih disekitar teras depot karena kondisi hujan masih deras.

Sambil menghabiskan sisa teh hangat, saya terus memperhatikan anak kecil itu. Setiap orang yang lewat dan mau masuk ke depot, dia tawari kue molennya. Namun tak juga ada yang membeli kuenya, karena mungkin orang datang ke depot adalah untuk makan. Terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah makanan habis, saya membayar ke kasir dan berniat meneruskan perjalanan. Sesampai di pintu keluar, anak tadi kembali menyapa saya dengan sopan, "Kak... Kakak sudah kenyang ya? Tapi mungkin kakak mau membeli kue buat oleh-oleh keluarga di rumah."

Sekali lagi dia memamerkan kue molen dalam nampan dengan membuka penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 10.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Kakak sudah kenyang dan ini masih belum mau pulang. Kakak tidak membeli kue molen adik, ini buat adik saja" kata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak.

Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berlalu dari pandangan saya. Kemudian saya mengenakan mantel kembali, karena hujan masih cukup deras. Setelah memakai mantel dan akan menuju motor, alangkah terkejutnya saya ketika melihat anak kecil tadi memasukkan uang (yang saya beri) di kotak amal yang ada di dalam depot.

Ketika anak itu kembali untuk menunggu calon pembeli di pintu masuk depot, saya memanggilnya dan anak itu berlari menghampiri saya.

"Ada apa kak? Mau beli kue molen saya untuk oleh-oleh teman kakak?" tanyanya polos.

"Kenapa adik memasukkan uang yang kakak beri ke kotak amal? Itu kakak berikan buat adik." tanya saya agak heran.

Tanpa menjawab pertanyaan saya, anak itu berkata, "Kak, saya tak bisa ambil uang itu. Kata Ibu kita mesti bekerja mencari nafkah. Kalau dia tahu saya bawa uang sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Ibu pasti marah. Dan nanti dikira saya mendapat uang itu dari mengemis atau mencuri!" katanya begitu lancar.

Mendapat jawaban itu saya seperti tersentak, bertambah pula rasa kagum saya dengan pegangan hidup anak kecil didepan saya ini. Sehingga tanpa berpikir panjang, saya lalu bertanya, "Berapa harga semua kue pisang molenmu?"

"Kakak mau beli semuanya?" dia bertanya dan saya hanya mengangguk tak bisa berkata apapun lagi. "Harganya 700-an kak, ini masih sisa 30. Jadi semuanya Rp 21.000, saya bulatkan Rp 20.000 saja buat kakak".

Tanpa banyak bicara saya keluarkan uang Rp 25.000 dan saya berikan padanya, "Dik, kamu kasih kakak harga Rp 20.000, tapi kakak kasih kamu Rp 25.000. Rp 5.000 adalah tambahan atas kejujuran adik, tidak perlu dimasukkan kotak amal lagi. Pakai itu buat uang saku sekolah, dan kakak yakin Ibu tidak akan marah karena kuenya sudah habis semua."

"Iya kak, terima kasih" Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, lalu dia berlalu dari pandangan saya menembus hujan.

"Ya Allah.." saya hanya bisa bergumam dalam hati, "Mulia sekali ibu yang dapat mendidik anaknya seperti itu, semoga rezeki selalu Kau limpahkan kepada mereka."

~~~~~~~~~~
Jangan pernah melihat seseorang hanya dari penampilannya. Kebaikan dan kejahatan akan selalu ada di sekitar kita. Tergantung apakah kita mampu untuk mengambil hikmah dari semua yg pernah kita alami. Cerita diatas telah menggambarkan, bahwa tiada kesulitan yg tidak bisa dipecahkan, asal kita mau tuk berusaha. Hanya ketulusan dan kemuliaan hati, yang bisa membentengi kita dari perbuatan kotor.
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Cerita Tuhan dan si Tukang Cukur


Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang," Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan. Katakan kepadaku jika Tuhan itu ada, adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi", kata si tukang cukur meyakinkan.

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah si konsumen meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, "Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini tidak ada tukang cukur."

Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ? Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ", si konsumen menambahkan.

"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!" kata si konsumen menyetujui. "Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, Tuhan itu juga ada. Tapi apa yang terjadi, orang-orang tidak mau datang kepada-NYA, dan tidak mau mencari-NYA. Oleh karena itu
banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Si tukang cukur terbengong !!!!

~~~~~~~~~~
Kadang orang tidak mempercayai sesuatu itu ada, hanya karena dia tidak pernah melihat wujud atau hasil yang nampak kelihatan oleh mata kepalanya sendiri. Tanpa mau bertanya dan tanpa melakukan pembuktian, dia sudah membuat sebuah keputusan yang diyakininya benar.

Bersikap pro-aktif terhadap hidup kita, maka kita akan cepat mendapat jawaban dari setiap rahasia hidup ini. Tuhan itu ada, yang ghaib itu ada dan banyak sekali buktinya... jika kita mau untuk belajar memahaminya.


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Hanya Sebuah Koin Penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit.

Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya."Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

"Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai Rp 100.000. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga Rp 100.000, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah Rp 200.000 kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga Rp 400.000. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi Rp 500.000. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai Rp 500.000. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan ? Apa yang diambil oleh perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

~~~~~~~~~~
Cerita diatas adalah sebuah contoh, bahwa kita mendapatkan rezeki bisa dari manapun asalnya. Sementara ketika rezeki sudah didapat, kadang belum sempat kita menikmatinya namun harus merelahan rezeki itu lenyap. Mungkin saja bisa kehilangan atau dirampok seperti cerita diatas. Atau mungkin untuk biaya berobat keluarga kita, atau untuk membayar sekolah anak kita dan sebagainya.

Bagi sebagian orang yang telah kehilangan rezeki yang didapat dengan susah payah, akan merasa sedih dan tertekan. Namun bila Kita sadar bahwa kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Janganlah kita menyesali kehilangan sesuatu yang tidak pernah kita miliki. Hanya Tuhan lah pemilik alam semesta beserta isinya.


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Delapan Kebohongan Seorang Ibu

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

~~~~~~~~~~
Demi mengenang Ibu yg ada di alam sana.... "Terima kasih atas segala kasih sayang yg pernah kamu berikan."


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Memahami Sebuah Pesan


Cerita ini mengisahkan kehidupan 2 orang kakak beradik. Ketika ayah mereka meninggal sebelumnya berpesan dua hal kepada mereka. Pertama tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang dan kedua jika pergi dari rumah ke toko jangan sampai terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu, "Inilah karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku. Dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih.
Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau dokar. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak."

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama.

Jawab anak sulung, "Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah.
Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama."

~~~~~~~~~~
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat bisa dipahami dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan "positif attitude" maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan yg membuat kita sukses. Tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita..

Pilihan ada di tangan kita...


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Cerita si Tikus Dan Perangkap Tikus


Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "Hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang.

Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak, "Ada Perangkap Tikus di rumah... di rumah sekarang ada perangkap tikus...."

Ia mendatangi ayam dan berteriak, "Ada perangkap tikus"
Sang Ayam berkata "Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku."

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata, "Aku turut ber simpati... tapi tidak ada yang bisa aku lakukan."

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. Sapi berkata, "Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali."

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata, "Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku."

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.

Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya karena sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam. Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.

Masih saja, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali tetangga yang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan.. Si Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

~~~~~~~~~~
Cerita diatas mungkin hanya sekedar ilustrasi. Bila dikaitkan dengan kehidupan kita sehari-hari, semisal ada seorang teman yang mengalami kesulitan dan dia bercerita kepada kita. Namun dengan tanpa perasaan kita mengatakan kepadanya, "Itu adalah masalahmu dan tidak kaitannya denganku, jadi aku tak bisa membantumu."

Mungkin memang benar, bahwa masalah setiap orang merupakan tanggungan dari orang itu sendiri. Tapi apakah kita bisa sedikit memberikan empati, hanya untuk sekedar memberi saran yang membuat dia lebih tenang. Karena siapa tahu, suatu saat kita punya masalah yang sama, maka akan ada teman yang akan membantu kita meski hanya sekedar saran.


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Cintai Aku Apa Adanya...

(Kisah seorang istri tentang suaminya...)

Saya memiliki suami yang seorang insinyur. Saya mencintai sifatnya yang alami dan menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Setelah tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui bahwa saya mulai merasa lelah. Alasan-alasan saya mencintainya dahulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan pada dirinya.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa ?", dia bertanya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan".

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya ? (gumam ku di dalam hati).

Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati, saya akan merubah pikiran saya. Sayangku... seandainya saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung, akan tetapi kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu kamu akan mati, apakah kamu akan melakukannya untukku ?".

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok".

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat. Disitu tertulis ...

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya, namun saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu sering mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program-program di PC dan akhirnya menangis di depan monitor karena panik, namun saya selalu memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu dan membukakan pintu untukmu ketika pulang."

"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu "teman baikmu" datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi "aneh". Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku sambil tidur dan itu semua tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah.
Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu."

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari apa yang dapat aku lakukan. Namun jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku tidak juga cukup bagimu, maka aku tidak akan bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

"Sayang, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri didepan menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku adalah bila kau bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh… kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

~~~~~~~~~~
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah bayangan wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud yang tak pernah kita bayangkan. Terbukalah dengan pasangan, karena siapa tahu ada hal-hal yang tidak pernah nampak oleh kita, dan itu telah diberikan pasangan kita untuk kita.


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati


Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dan dia berdusta padamu…
Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya….
Saat kau memberikan perhatian, dia tidak menghargainya…
Hal yang sangat menyakitkan adalah saat kau mengirimkan message pada temanmu, dia menghapus tanpa membacanya…
Saat kau membutuhkan jawaban dari message, dia tidak menjawab dan mengacuhkannya…
Saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura-pura tidak melihatmu…
Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintamu…
Saat dia yang kau sayangi tiba-tiba memutuskan hubungannya denganmu…

Hal yang sangat mengecewakan adalah kau dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan…
Saat kau bersikap ramah, dia terkadang bersikap sinis padamu…
Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu…
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu…
Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu…
Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang
kau berikan….
sebenarnya dia telah mengajarimu agar kau tidak berprilaku seperti dia…

Saat temanmu menghapus message yang kau kirim sebelum membacanya atau saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura-pura tidak melihatmu, sebenarnya dia telah mengajarkanmu agar tidak berprasangka buruk dan selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia pernah membaca message yang kau kirim atau mungkin saja dia tidak melihatmu.

Dan saat dia tidak menjawab message-mu. sebenarnya dia telah mengajarkanmu untuk menjawab message temanmu yang membutuhkan jawaban walaupun kau sedang sibuk. Dan jika kau tidak bisa menjawabnya, katakan kalau kau belum bisa menjawabnya jangan biarkan message tanpa jawaban karena mungkin dia sedang menunggu jawabanmu.

Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba-tiba memutuskan hubungannya denganmu, sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk menerima rencanaNya…

Saat kau bersikap ramah tapi dia terkadang bersikap sinis padamu, sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk selalu bersikap ramah pada siapapun.

Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu, sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk menjadi seorang teman yang bisa diajak berbagi cerita, mau mendengarkan keluhan temanmu dan membantunya.

Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang dalam kesulitan, sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif dan santun, kau juga mau membantunya saat dia dalam kesulitan.

Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan.

Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak dipedulikan/dicuekin, tidak dihargai, atau bahkan mungkin dicaci dan dihina.

Yang paling berharga adalah sebenarnya orang-orang tersebut sedang mengajarimu untuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar. Jika memang yang kau rasakan begitu menyakitkan, maka jangan pernah berprilaku seperti itu kepada orang lain.

Mungkin Tuhan menginginkan kau bertemu orang dengan berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu hidupmu…


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Tolong Kembalikan Tangan Ita...

Gadis kecil berusia empat tahun itu sedang asyik mencoret-coret tanah di pekarangan rumahnya, sementara pembantu yang menjaganya menjemur pakaian. Beberapa waktu kemudian, Ita si gadis kecil menemukan paku berkarat dan memakainya untuk menggambar.

Kemudian Ita berjalan ke garasi dan mulai menggoreskan paku itu di sedan hitam yang baru dibeli papanya. Dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan sedan itu.

Sore harinya, ketika papa dan mamanya pulang, dengan bangga Ita menarik tangan papanya untuk memperlihatkan hasil karyanya sendiri di garasi.

Pemandangan di garasi itu dengan cepat memompa emosi papanya dan karena lepas kendali, papanya memukul tangan Ita dengan mistar.

"Ampun Pa ... Ampun Pa..., itulah jeritan yang keluar dari mulut Ita tapi jeritan ini tidak dihiraukan oleh papanya. Setelah merasa puas, papanya berhenti dan menyuruh pembantu untuk mengurusi Ita yang baru saja didisiplinkan tanpa pembelaan sang mama.

Tangis yang panjang melelahkan Ita dan ia pun tertidur. Ketika pembantu memandikannya, dari awal sampai selesai mandi Ita menangis karena rasa perih di kedua tangannya. Ketika si pembantu memberitahu majikan, mereka hanya menyuruh untuk mengoleskan salep.

Keesokkan harinya mereka bekerja seperti biasa, sementara tangan Ita mulai membengkak. Saat si pembantu menelepon nyonyanya, ia kembali diperintahkan untuk mengoleskan salep dan memberi obat demam. Hari berganti dan suhu badan Ita mulai naik, namun kedua orang tuanya tidak serius mengobati tangan Ita sampai suatu hari suhu tubuh Ita sangat tinggi.

Dengan panik mereka pun membawa Ita ke rumah sakit. Diagnosa dokter, Ita demam diakibatkan oleh luka-luka di tangannya. Setelah di opname selama satu minggu, akhirnya dengan berat hati dokter memberitahukan kondisi Ita. "Tangannya yang bernanah telah membusuk. Untuk menyelamatkan Ita maka kami harus mengamputasi tangnnya."

Dengan derai air mata dan penyesalan yang tak ada habisnya, papa dan mama Ita menandatangani surat persetujuan. Singkat cerita, Ita dioperasi dan setelah ia siuman dengan menahan rasa sakit di tangannya ia berkata, "Pa, Ita nggak akan nakal lagi. Ita sayang sama Papa dan Mama, tapi Pa, tolong kembalikan tangan Ita. Kalau ngga pinjam aja Pa, Ita janji nggak akan mengulanginya, Ita nggak akan nakal lagi. Ayo Pa, kembalikan tangan Ita ...."

Semua orang yang ada di ruangan itu membisu, hanya isak tangis dan derai air mata yang berbicara mewakili kesedihan dan penyesalan mereka.

~~~~~~~~~~
Efek yang ditimbulkan oleh amarah dan kehilangan kendali adalah rasa sakit dan rasa bersalah. Dalam sebuah keluarga, kesalahan seorang anak berpotensi meningkatkan emosi orang tua, namun seharusnya orang tua mempersiapkan diri dengan penguasaan diri yang tinggi sehingga dapat mendidik anaknya tanpa meninggalkan luka-luka batin pada anaknya.

"Panas hati hanya akan menyeret kita jatuh kedalam perbuatan jahat dan penyesalan."


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Besarnya Penghargaan yang Kita Berikan

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi. Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu.

Ia mengambil catatan itu dan membacanya, "Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini."

Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana. Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu.
Si penjual daging sangat terkesan. Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing.

Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut,
sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.

Anjing tsb kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat "Papan informasi jam perjalanan ". Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat "Papan informasi jam perjalanan " dan kemudian duduk disalah satu bangku yang disediakan.

Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya. Bus lain datang. Sekali lagi si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.

Bus berjalan meninggalkan kota , menuju ke pinggiran kota. Si anjing melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan 2 kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar, kantung plastik masih tergantung di mulutnya. Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging.

Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga. Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tsb.

Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil,
melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik dan menunggu di pintu. Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.

Si penjual daging berlari untuk menghentikan pria tersebut, "Apa yang kau lakukan ..? Anjing ini adalah anjing yg jenius. Ia bisa masuk televisi untuk kejeniusannya."

Pria itu menjawab, "Kau katakan anjing ini pintar ...? Dalam minggu ini sudah dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!"

~~~~~~~~~~
Mungkin hal serupa pernah terjadi dalam kehidupan kita. Sesuatu yang bagi kita kurang memuaskan, mungkin adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain. Yang membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita.

Pemilik anjing tidak menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya semata, sehingga menganggapnya anjing yang bodoh. Sebaliknya, sang pemilik toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintarnya karena mampu berbelanja sendirian.

Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa setiap harinya kita menghadapi pilihan yang sama. Kita punya dua pilihan dalam menghadapi hidup ini, apakah hendak mengeluh atas berbagai hal yang kurang memuaskan, atau bersyukur atas berbagai karunia yang telah kita terima.

Tuhan telah mengkaruniai kita dengan 86.400 detik per hari. Sudah adakah yang kita gunakan untuk mengucap syukur?


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

Sandal Kulit Sang Raja

Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana, kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, "Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya."

Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.

Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa tu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, "Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja."

Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut "Sandal".

~~~~~~~~~~
Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri. Sang raja mungkin mempunyai niat yang baik, namun dia tidak mempunyai cara yang efektif seperti yang dikemukakan seorang pertapa.

Sesuatu yang berlebihan akan menghasilkan keborosan, kemubadziran dan bahkan mungkin juga bisa merugikan pihak yang lainnya. Kadangkala sebuah penemuan yang cerdas, adalah membuat sesuatu yang sulit menjadi lebih mudah dengan cara yang sederhana


Pindahan dari thread: Renungan Buatku...Buatmu...dan Buat Kita semua...
Selanjutnya »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati