Anak Penjual Pisang Molen

Siang itu hujan mengguyur kota pahlawan. Saya masih berada dijalanan bersama motor kesayangan dan mantel hujan pelindung. Dinginnya guyuran air hujan seperti tak terasa, karena baru saja saya mendapat rezeki dari pemesanan baju seragam. Namun karena perut belum diisi sejak pagi terasa musik keroncong saling bersautan, pertanda saya harus mencari warung makan untuk sarapan sekaligus makan siang.

Karena dijalanan protokol, sulit sekali mencari warung. Akhirnya saya belokkan kendaraan ke sebuah depot nasi padang. Sesampai di depot saya langsung memesan makanan. Saat menunggu pesanan, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berkaos biru dan memakai celana biru anak SMP muncul di depan saya.

"Kak.. Kakak mau beli pisang molen?" Tanya anak itu sambil tersenyum. Dia membuka tutup nampan untuk menunjukkan kue molen pada saya.

Karena saya sudah memesan makanan, saya menjawab dengan ringan, " Tidak dik, kakak sudah memesan makanan." Anak itupun akhirnya berlalu dari hadapan saya.

Pesanan tiba dan saya langsung menikmatinya. Sambil makan, saya melihat keluar depot dan melihat anak kecil tadi duduk disamping pintu dengan nampan berisi jualan kue molennya. Setiap orang yang akan masuk depot, dia tawari kuenya. Dan sampai makanan saya habis, belum juga ada orang yang membeli kue molen anak tadi.

Ketika tahu saya melihatnya, anak itu kemudian menghampiri saya lagi. "Kakak sudah makan? Coba kue molen saya, enak lho kak."

Karena saya sudah merasa kenyang, saya pun menjawab, "Dik, kakak sudah kenyang. Lain kali saja ya." Anak itupun berlalu lagi tapi masih disekitar teras depot karena kondisi hujan masih deras.

Sambil menghabiskan sisa teh hangat, saya terus memperhatikan anak kecil itu. Setiap orang yang lewat dan mau masuk ke depot, dia tawari kue molennya. Namun tak juga ada yang membeli kuenya, karena mungkin orang datang ke depot adalah untuk makan. Terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah makanan habis, saya membayar ke kasir dan berniat meneruskan perjalanan. Sesampai di pintu keluar, anak tadi kembali menyapa saya dengan sopan, "Kak... Kakak sudah kenyang ya? Tapi mungkin kakak mau membeli kue buat oleh-oleh keluarga di rumah."

Sekali lagi dia memamerkan kue molen dalam nampan dengan membuka penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 10.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Kakak sudah kenyang dan ini masih belum mau pulang. Kakak tidak membeli kue molen adik, ini buat adik saja" kata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak.

Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berlalu dari pandangan saya. Kemudian saya mengenakan mantel kembali, karena hujan masih cukup deras. Setelah memakai mantel dan akan menuju motor, alangkah terkejutnya saya ketika melihat anak kecil tadi memasukkan uang (yang saya beri) di kotak amal yang ada di dalam depot.

Ketika anak itu kembali untuk menunggu calon pembeli di pintu masuk depot, saya memanggilnya dan anak itu berlari menghampiri saya.

"Ada apa kak? Mau beli kue molen saya untuk oleh-oleh teman kakak?" tanyanya polos.

"Kenapa adik memasukkan uang yang kakak beri ke kotak amal? Itu kakak berikan buat adik." tanya saya agak heran.

Tanpa menjawab pertanyaan saya, anak itu berkata, "Kak, saya tak bisa ambil uang itu. Kata Ibu kita mesti bekerja mencari nafkah. Kalau dia tahu saya bawa uang sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Ibu pasti marah. Dan nanti dikira saya mendapat uang itu dari mengemis atau mencuri!" katanya begitu lancar.

Mendapat jawaban itu saya seperti tersentak, bertambah pula rasa kagum saya dengan pegangan hidup anak kecil didepan saya ini. Sehingga tanpa berpikir panjang, saya lalu bertanya, "Berapa harga semua kue pisang molenmu?"

"Kakak mau beli semuanya?" dia bertanya dan saya hanya mengangguk tak bisa berkata apapun lagi. "Harganya 700-an kak, ini masih sisa 30. Jadi semuanya Rp 21.000, saya bulatkan Rp 20.000 saja buat kakak".

Tanpa banyak bicara saya keluarkan uang Rp 25.000 dan saya berikan padanya, "Dik, kamu kasih kakak harga Rp 20.000, tapi kakak kasih kamu Rp 25.000. Rp 5.000 adalah tambahan atas kejujuran adik, tidak perlu dimasukkan kotak amal lagi. Pakai itu buat uang saku sekolah, dan kakak yakin Ibu tidak akan marah karena kuenya sudah habis semua."

"Iya kak, terima kasih" Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, lalu dia berlalu dari pandangan saya menembus hujan.

"Ya Allah.." saya hanya bisa bergumam dalam hati, "Mulia sekali ibu yang dapat mendidik anaknya seperti itu, semoga rezeki selalu Kau limpahkan kepada mereka."

~~~~~~~~~~
Jangan pernah melihat seseorang hanya dari penampilannya. Kebaikan dan kejahatan akan selalu ada di sekitar kita. Tergantung apakah kita mampu untuk mengambil hikmah dari semua yg pernah kita alami. Cerita diatas telah menggambarkan, bahwa tiada kesulitan yg tidak bisa dipecahkan, asal kita mau tuk berusaha. Hanya ketulusan dan kemuliaan hati, yang bisa membentengi kita dari perbuatan kotor.
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Furl
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati

16 comments

12 Desember, 2011

sangat terharu membaca postingan ini sob,, betapa jujurnya tuh anak,, sangat mulia hatinya, subhanallah, :(

12 Desember, 2011

Subhanallah..

12 Desember, 2011

hiiiiiiiii enak jg maolen nya

13 Desember, 2011

Banyak memberikan aspirasi gan, kisah yang menarik membalas kunjungan agan juga, sukses selalu...

13 Desember, 2011

subhanallah :) saya suport disini, nunggu support balik

13 Desember, 2011

Subhanallah,, artikel bagus,

13 Desember, 2011

Sangat Mencerahkan gan, terus berkarya

Ane setuju gan

"Jangan pernah melihat seseorang hanya dari penampilannya. Kebaikan dan kejahatan akan selalu ada di sekitar kita. Tergantung apakah kita mampu untuk mengambil hikmah dari semua yg pernah kita alami. Cerita diatas telah menggambarkan, bahwa tiada kesulitan yg tidak bisa dipecahkan, asal kita mau tuk berusaha. Hanya ketulusan dan kemuliaan hati, yang bisa membentengi kita dari perbuatan kotor."

Pertamax Gan

13 Desember, 2011

artikel yang bermanfaat ....smg sukses sllu...

13 Desember, 2011

MANTEF BANGET POSTINGNYA BROE...SUNGGUH AKU BENAR² SUKA...MAJU TRUS YA.

14 Desember, 2011

Hello, I visit and give your full support ads and please support ads me back. Thank you in advance.

16 Desember, 2011

@All: terima kasih dah berkunjung dan berkomen, saya akan mengunjungi dan komen di blog anda semua sob :)

sangat inspiratif, do it your best. salam kenal, kunjungi blog info kesehatan kita

19 Desember, 2011

subhanallah... sangat berharga dan sangat langka di jaman sekarang ini

06 Januari, 2012

*angguk2 kepala*, yap..ide pokok ada, bahasan simple..mantab. makasih mas Arie ya :)

24 Agustus, 2014

subhanallah,, saya terharu membaca kisajh anak terseut, mungkin sangat jarak ada anak seperti dia. :'(

Leave a comment

Silahkan tulis komentar, kritik dan saran yang membangun. Gunakanlah bahasa yang sopan dan tidak perlu menautkan link karena sudah tersedia login dengan Url.